Sabtu, 03 Maret 2012

Cerpen : Salah Langkah

Namaku Sandara, tapi sering dipanggil Dara. Dan hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-17.
Orangtuaku memberikan pesta yang mewah, tapi mereka sendiri tidak datang di hari spesialku ini. Mereka hanya memberiku ucapan selamat ulang tahun dengan sepucuk surat dari Korea. Ya, mereka memeng super sibuk di negeri Gingseng itu, sampai-sampai melupakan anaknya sendiri.
Teman-teman sepertinya sudah hadir semua, tapiii....
“Kak Minho belum datang juga ya?”
“sepertinya belum nona”, jawab  Nari  --pembantuku--.
“fuihh,, mengapa Kak Minho belum datang juga ya?”
Aku memasang wajah muram. Sedangkan teman-teman yang lain tampak bersenang-senang
“hai Dara. Aku senang bisa datang di pesta ulang tahunmu ini. Tapi mengepa kau terlihat muram?”, salah satu temanku terbelalak melihat ekspresi wajahku.
“ah tidak. Kau bersenang-senanglah dengan yang lain. Jangan khawatirkan aku”, aku berusaha tersenyum.
“hm, baiklah jika kau merasa itu lebih baik”, lalu dia kembali ke kerumunan teman-temanku yang lainnya.



“Sandara!”. Terdengar suara seorang lelaki memanggilku.
“wah Kak Minho. Aku kira kau tak datang”, ekspresi wajahku berubah 180 derajat.
“maaf ya Dara, datang terlambat. Bukan hanya aku yang datang, tapi Sora-ku juga”
Oh Tuhan. Batinku. Aku lupa. Kak Minho kan sudah menjadi miliknya Sora –sahabatku— tapi mengapa aku masih mempunyai  perasaan pada Kak Minho? Dan mengapa pacar Kak Minho adalah Sora, sahabatku sendiri? Ini sungguh tidak adil bagiku.
Tak terasa aku terbangun dari lamunanku.
“oh iya. Tak apa-apa. Selamat datang di pesta ulang tahunku, Kak Minho...Sora”
“selamat ulang tahun Sandara!”, mereka berkata serempak.
“terimakasih”. Aku terseyum kecil.
“nah, ini ada kado untukmu. Dariku dan Kak Minho”.  Sora memberikan kado yang berbentuk persegi dengan bungkusan yang lucu berwarna biru muda.
“aku sengaja membungkusnya dengan warna biru. Karena aku tahu kau suka dengan warna itu”, Sora tersenyum manis.
“ya! Sora-ku ini memang tahu semua hal tentang dirimu, Dara. Kau beruntung bisa memiliki sahabat seperti Sora”, Kak Minho mulai menggoda Sora.
“ah, Kak Minho ini! Justru akulah yang beruntung punya sahabat seperti Dara. Iya kan Dara?”
“oh yaa. Kurasa begitu”. Jawabku tak yakin.



Pesta pun terlah usai. Aku berbaring lesu di atas tempat tidurku. Aku masih teringat saat Kak Minho dan Sora datang ke pestaku.
Sikap Kak Minho yang begitu bangga telah memiliki Sora, apalagi ketika Sora mengatakan bahwa dia beruntung punya sahabat sepertiku.
“pesta ulang tahun yang paling gak mengenakan bagiku!!”
Aku menghela nafas panjang sembari memeluk boneka teddy bear pemberian Kak Minho dulu.
“aku pikir, Kak Minho menyukaiku. Ternyata dia malah pacaran dengan Sora. Tapii....mengapa dia memberikan perhatian yang besar yaa untukku, sampai-sampai membelikan boneka ini segala. Dan sejak Kak Minho dekat dengan Sora, perhatian Kak Minho menjadi berkurang padaku. Hm,, andai saja aku tak memperkenalkan Kak Minho pada Sora, mungkin aku bisa terus mendapatkan perhatian dari Kak Minho”
Aku mulai melamun. Dan, sepertinya bisikan negatif telah merasuki pikiranku.
“lebih baik Sora mati!”. Astaga!! Aku terkejut sendiri apa yang aku katakan. Spontan aku menutup mulutku dengan telapak tangan.
Daraa....apa yang kau katakan? Sora itu sahabatmu dari kecil, bisa-bisanya kau mengatakan seperti itu. Ah tidak! Dia bukan sahabat yang baik, dia telah merebut Kak Minho dariku.



Keesokan harinya aku mengajak Sora untuk pergi ke toko buku. Padahal sebenarnya aku berencana untuk mencelakai dia.
“ayo berangkat!”, ajakku.
“OK. Tapi aku izin dulu sama Kak Minho ya? Soalnya kata Kak Minho kalau aku mau kemana-mana harus izin dulu sama dia”, sahut Sora sembari mengetik pesan untuk Kak Minho.
Terlalu! Mau kemana-mana harus sesuai izin Kak Minho? Udah kaya ayahnya saja! Batinku mengomel sendiri.
“yuk kita berangkat. Aku sudah dapat izin dari Kak Minho”. Aku hanya menganggukkan kepala melihat senyuman Sora yang sok manis itu!



Aku menghabiskan waktuku dengan Sora di toko buku itu. Sampai suatu ketika.
“sudah hampir sore nih. Kita pulang yuk Sora!”. Aku melihat arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 14.30.
“benar juga. Yuk pulang!”
Setelah keluar dari toko buku itu, kami menyelusuri trotoar di jalan raya. Keadaan lalu lintas saat itu semakin padat, penuh lalu lalang kendaraan dan suara klakson yang bersahutan.
Tiba-tiba terlingaku seperti ada yang membisikkan, bisikkan menyuruhku untuk menyelakai Sora. Aneh sekali, aku tak bisa lepas dari bisikan itu. Otakku tak terkendali, pikiranku tak menentu.
“Dara ayo kita menyebrang ke halte itu!” , ajak Sora tiba-tiba memecahkan lamunanku sedari tadi, dia menunjuk halte bus di sberang dimana kami berdiri.
Dan saat kami melangkah. ‘brrmmm....aaaaaaaaa.....brraakk!!’
Sora berteriak keras dan tertabrak mobil setelah aku mendorongnya! Aku terkejut bukan main. Aku tak ingat kapan aku mendorong Sora! Mataku melotot penuh dengan ketakukan melihat Sora tergeletak di tengah jalan dengan kaki dan kepala yang penuh luka dan mengeluarkan darah.
Beberapa orang berkerumun mengelilingi Sora bagaikan sekelompok semut yang mengerumuni gula. Aku masih tetap berdiri terpaku melihat semua itu. Daann...
“permisi nona. Apakah kau mengenali gadis itu?”, seorang lelaki separuh baya mengejutkanku. Dia menunjuk ke arah dimana Sora dikerumuni. Aku tersentak, lalu tersadar kembali.
“ah iya, aku mengenalnya. Di..diaa temanku”, kataku terbata-bata.
“sebaiknya teman nona ini harus segera di bawa ke rumah sakit. Biar lukanya tak terlalu parah”
“baiklah. Te..terimakasih. Pak”
Dan setelah kecelakaan itu. Hari berikutnya aku tidak menemui Sora di rumah sakit. Hatiku perih saat aku ingat betapa baiknya Sora padaku dan bagaimana balasanku terhadapnya. Aku sungguh menyesal telah melakukan hal sekejam itu pada sahabatku sendiri.



Seminggu telah berlalu. Aku berfikir, mungkin sudah saatnya aku harus berterus terang kepada Sora. Aku tak boleh lari dari kesalahanku dan kecerobohanku itu.
Hari ini aku harus memberanikan diri menemui Sora di rumah sakit. Awalnya aku ragu, tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku.
Tapi...setalah aku berada di hadapan Sora. Sora berkata.
“hai Dara. Kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu”, Sora terseyum ceria. Rupanya dia sudah membaik. Syukurlah.
“ma...maafkan aku Sora. Aku jahat padamu. Soal kecelakaan itu...akuu....”
“sttt. Sudahlah Dara. Aku tak apa-apa kok. Aku mengerti perasaanmu, kau melakukan ini karena kau menyukai Kak Minho kan?”, Sora masih tetap terseyum.
“iya. Tapi aku tak bermaksud seperti itu. Aku khilaf, aku hanya mementingkan diri sndiri. Aku bukan sahabat yang baik bagimu”
“tidak Dara. Kau adalah sahabat terbaikku. Apakah kau tak menyadari sudah berapa lama kita bersahabat? Aku telah memahamimu, kau tak mungkin sekejam itu kepada sahabatmu yang bodoh ini! Justru aku merasa, aku bukan sahabat yang baik bagimu, awalnya aku tak menyadari bahwa kau menyukai Kak Minho juga”
Aku terbelalak. “apa yang kau katakan Sora. Bodoh?”
“iya. Aku memang bodoh. Kak Minho. Yaa, dia telah meninggalkanku setelah mendengar bahwa kakiku lumpuh. Aku tak dapat berjalan bahkan berdiripun aku tak mampu”
Tanpa sadar airmataku tiba-tiba menetes dengan derasnya. Tubuhku lemas dan aku merasa semakin bersalah kepada Sora.
“aku...aku telah membuatmu menderita seperti ini. Semua ini adalah salahku”, kataku sambari menangis.
“aku tak mnyalahkanmu Dara. Sungguh. Malah aku sangat berterimakasih padamu. Berkat kau, aku bisa tahu belangnya lalaki itu –Minho—”, Sora tersenyum sekaligus menangis.
“lagi pula. Beberapa bulan kemudian, kemungkinan aku dapat berjalan lagi seperti dulu lagi kok”. Lanjutnya.
Melihat Sora menangis. Aku langsung memeluk sahabatku yang merasa dirinya bodoh itu.
“bukan kau saja yang bodoh,Sora. Aku juga bodoh. Mengapa aku bisa percaya dengan lelaki itu? Dan parahnya lagi, aku telah mencelakaimu demi dia. Maafkan aku Sora”
“iya sahabatku, Dara. Aku memaafkanmu. Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku tak tega melihatmu menangis”

Seperti itulah kesalahan yang membuatku hampir kehilangan sahabat terbaikku. Aku takkan mengulanginya lagi. Sora adalah sahabat terbaikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar