Selasa, 18 Desember 2012

Berlarilah, Anju!


Berlarilah, Anju!


 #Sebelumnya aku buat cerpen http://arhayesungieminnie.blogspot.com/2012/12/love-in-seoul-cerpen.html silahkan klik ^^#

Sendo Anju terus berlari menuju finish, keringatnya bercucuran dan nafasnya semakin sesak tapi  kedua kaki yang kokoh masih mantap menopang tubuhnya. Sekarang garis finish sudah semakin dekat, sorak penonton yang memberi dukungan begitu antusias bak seekor monyet mendapat pisang. Diantara mereka, ada seorang lelaki yang bernama Takaba Ryuji melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak. “Anju-chan, berjuanglah. Kau bisa melakukannya!”
Anju tak begitu mendengar suara Ryuji dengan jelas, namun ajaibnya dukungan dari Ryuji membuat Anju melewati para pelari lainnya, dan...akhirnya Anju menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya digaris finish. Sontak, semua penonton berdiri dan bersorak gembira, sedangkan sang juara lomba lari maraton tingkat nasional itu melambaikan kedua tangannya walaupun nafasnya masih terengah-engah.

***
Anju dan Ryuji duduk dibangku penonton yang sudah kosong. “Ini untukmu”, Ryuji memberikan sebotol air minum untuk Anju.
“Terimakasih, Ryu”, Anju tersenyum lalu meneguk air botol berisotonik itu.
“Kau sudah bekerja keras, An. Tapi kakimu tidak terluka, kan?”
“Tidak. Hanya saja...saat berlari tadi, dadaku terasa sesak. Diperlombaan sebelumnya aku tidak pernah sesesak itu. Tapi, kau tak perlu khawatir.”
“Baiklah. Aku harap, nanti kau tak akan merasa sesak lagi saat berlari,” Ryuji mengusap-usap rambut pendek Anju.
“Semoga saja,” singkat Anju sambil tersenyum.”Ngomong-ngomong, apa ayah dan ibuku datang kemari? Sepertinya aku tak melihat mereka.”
Ryuji diam sejenak. “Aku menyesal mengatakan ini, tapi mereka tidak bisa datang karena...ya, kau tahu sendiri, kedua orangtuamu selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.”
Mimik wajah Anju berubah. “Jadi untuk apa aku mendapat piala ini jika mereka tidak melihatku berlari?”, Anju menatap pialanya sambil termenung.
“Ayolah, An. Jangan seperti itu, masih ada aku disini,” Ryuji berusaha mengembalikan senyuman Anju yang memudar.
“Ya. Kau memang teman terbaikku, Ryu.”
“Teman? Ah...ya, teman, tentu saja kita berteman”, Ryuji memaksakan seulas senyuman. Mengapa Anju tidak mengerti juga? Jelas-jelas Ryuji menyukai Anju, kalau tidak, untuk apa Ryuji selalu mendukungnya saat Anju akan mengikuti lomba lari? Untuk apa Ryuji selalu menemani Anju saat kesepian karena sering ditinggal orangtuanya pergi bekerja? Dan, untuk apa Ryuji pindah ke sekolah Seiryu hanya untuk melihat Anju? Ryuji sungguh tak mengerti mengapa Anju menganggapnya hanya sebagai teman.
“Ryu, aku senang kau selalu menemaniku. Apa jadinya jika kau tidak pindah ke Kyoto dan satu sekolah denganku?”, Anju membuyarkan lamunan Ryuji.
Ryuji tersenyum. “Syukurlah kau senang, karena aku merasa harus tinggal di Kyoto dan menjagamu sesuai janjiku sewaktu kita kecil.
Sembilan tahun yang lalu di Kyoto.
Ryuji dan Anju kecil sedang bermain di bawah pohon besar nan rindang, rumput-rumput hijau yang bergoyang tertipu angin begitu lembut menyentuh kulit.
“Ryu-chan, jika nanti kau sudah besar mau jadi apa?”, Anju kecil yang memiliki rambut panjang lurus bertanya dengan riang.
Ryuji kecil yang tengah beridri menoleh dan duduk disamping Anju. “Aku ingin ikut kejuaraan Kenpo, mewakili Jepang dan mendapat mendali emas!”, Ryuji tersenyum lebar, sampai-sampai mata sipitnya terlihat menggemaskan.”Anju-chan?”
“Aku ingin menjadi seorang pelari maraton yang hebat”, seru Anju membayangkan dirinya berlari dengan gesit di lapangan.
“Lari maraton itu melelahkan, An.”
“Tidak. Karena aku suka berlari, lihat aku...”, Anju kecil berdiri lalu berlari penuh semangat diatas rumput-rumput itu. Tiba-tiba Anju terjatuh tersandung rok panjangnya lalu menangis.
Ryuji terkejut dan menghampiri Anju. “Ada yang luka? Aku tahu kau suka berlari tapi harus hati-hati, mengerti?”, Ryuji membersihkan kerikil-kerikil kecil di kedua lutut Anju. Anju tidak menjawab, ia hanya bisa menangis.
“Jangan menangis. Aku janji akan menjagamu sampai kapanpun, Anju-chan.”

“Tapi mulai besok, aku tidak akan ada di Kyoto. Aku akan mengikuti pelatihan dan mengikuti pertandingan Kenpo di Tokyo. Aku tak tahu berapa lama aku disana. Jadi, maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf? Aku janji, walaupun kau tak ada. Aku akan baik-baik saja. Sungguh”, Anju berusaha menenangkan Ryuji.
“Baiklah, aku pegang janjimu”, Ryuji tersenyum.

***
Dua minggu kemudian,
“Akhirnya aku kembali ke Kyoto”, Ryuji turun dari kereta ekspres dan menghela nafas panjang. Ia melirik mendali emas di tangan kanannya sambil tersenyum lebar dan membayangkan wajah Anju, namun Ryuji tidak tahu apa yang terjadi selama ia berada di Tokyo.
Kini Ryuji sedang menunggu bus di halte untuk pulang ke rumah. Cuaca hari ini tampak mendung, ia harus segera tiba di rumah sebelum hujan turun. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti dihadapannya, orang yang ada di dalamnya membuka kaca mobil.
”Ryuji-san, kemarilah. Ikutlah denganku”, Ryuji mengenal lelaki separuh baya itu. Ayahnya Anju, Sendo Akira dan yang duduk disebelahnya adalah Sendo Hinata, ibunya Anju.
“Naiklah, nak. Kurasa Anju membutuhkanmu”, ajak ibunya Anju dengan wajah cemas. Ryuji berpikir, ada apa ini? Kenapa dengan Anju?
Akhirnya Ryuji ikut bersama orangtua Anju ke rumah sakit, ya..rumah sakit. Ryuji tidak tahu bahwa Anju saat ini sedang berjuang melawan maut. Mengapa? Rupanya rasa sesak dan lelah luar biasa yang dialami Anju dua minggu yang lalu telah membuatnya menderita kanker paru-paru.
“Bagaimana ini bisa terjadi, paman?”, tubuh Ryuji lemas seketika setelah ia tahu apa yang terjadi dengan Anju, gadis yang selalu ia jaga.
“Semua ini salah kami. Kami orangtua yang buruk bagi Anju, aku tidak tahu bahwa putriku sendiri mengidap penyakit seberat itu”, Sendo Akira menundukkan kepala, ia melepaskan kacamatanya untuk menyeka airmata yang mulai mengalir.
“Ini juga salahku, paman. Karena aku tidak sepenuhnya menjaga Anju”, Ryuji menghela nafas menenangkan diri. “Tapi aku akan menebus kesalahanku. Aku akan selalu menjaga Anju dan memberinya semangat.”
Seno Akira tersenyum. “Kau memang anak yang baik Ryuji, tapi jangan memaksakan dirimu”, ia menepuk-nepuk bahu Ryuji.
“Benar. Lebih baik kau temui Anju di dalam sekarang”, Seno Hinata yang mendengar percakapan suaminya dan Ryuji keluar dari ruangan Anju.
”Baiklah,” Ryuji langsung melesat ke dalam ruangan. Lihatlah Anju, ia terbaring sambil tersenyum pucat melihat kedatangan teman terbaiknya itu. Ryuji benar-benar tak ingin melihat Anju dengan keadaan seperti itu. Sungguh!
“Kapan kau datang, Ryu?”
“Aku baru saja kembali dan langsung ikut dengan ayah dan ibumu kemari”, Ryuji mencoba tak menampakkan perasaan cemasnya.
“Benarkah? Kau pasti lelah, tidak perlu memaksakan diri.”
Ryuji tersenyum. “Apa kau dan ayahmu sekongkol? Kalian mengatakan hal sama.”
Anju tertawa. Tampaknya suasana hati Anju mulai membaik setelah kedatangan Ryuji.

***
Pagi ini cuaca sangat cerah, Ryuji membawa sekotak makanan untuk sarapan paginya Anju.
“Anju-chan, waktunya makan”, Ryuji mengangkat kotak makanan dengan tersenyum ceria.
Anju yang tadinya sedang menyisir rambut menoleh dan tersenyum lebar.
“Waktu begitu cepat berlalu, lihatlah rambutmu sudah hampir sebahu”, Ryuji menghampiri Anju dan mulai membuka kotak makanan.
“Aku juga sudah lama berhenti berlari.”
Melihat wajah sedih Anju, Ryuji mengelus rambut gadis itu.”Ayolah, aku disini bukan untuk melihat kau bersedih. Aku akan selalu menjaga dan menghibur Anju yang manis ini.” Rayuan dari Ryuji berhasil membuat Anju tersenyum. Ajaib.
Sementara itu diruangan dokter, keluarga Sendo mendengar kabar yang sangat menyakitkan.
“Tidak mungkin. Dokter pasti salah, bagimana mungkin putriku hidupnya tak akan lama lagi”, Sendo Hinata menangis.
“Berapa lama Anju akan bertahan, dok?” Sendo Akira bertanya cemas.
“Kemungkinan sekitar satu atau dua bulan lagi”, jawab Dokter Nishimura dengan berat hati.
Tepat pada saat itu Anju menjatuhkan gelas, Ryuji menoleh kearah Anju dan menghampirinya. “Kau tidak apa-apa, An?”
Anju menggelangkan kepala namun entah mengapa ia merasa akan ada hal yang buruk terjadi.

***
Waktu begitu cepat berlalu. Ryuji duduk termenung diruang tunggu rumah sakit, sesekali ia menghela nafas dan memandang foto Anju bersamanya di ponsel. Ryuji tahu bahwa tak lama lagi ia akan kehilangan Anju, gadis manis yang sangat dicintainya.
“Anju-chan, haruskah aku menyatakan persaanku sebelum semuanya berakhir?”, Ryuji bergumam membelai foto Anju. Selama ini, Ryuji masih belum bisa memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Anju.
“Ryu, aku ingin jalan-jalan keluar. Temani aku,” Anju yang tiba-tiba keluar dari ruangannya menghampiri Ryuji yang duduk menatap ponsel.
“Baiklah. Mari aku bantu berjalan”, Ryuji menoleh lalu menopang lengan kiri Anju.
Anju tersenyum. ”Dulu aku adalah seorang pelari. Tapi sekarang, untuk berjalan pun aku masih dibantu oleh orang lain.”
“Siapa yang kau sebut orang lain? Aku kan te-teman terbaikmu”, rasanya sulit sekali bagi Ryuji untuk mengatakan bahwa ia adalah temannya Anju, Ryuji ingin lebih dari itu!
“Ryu, ayo kita duduk di ayunan itu”, Anju menunjuk ayunan panjang yang berada di halaman belakang rumah sakit. Ryuji hanya mengangguk.
Udara malam yang dingin membuat mulut Anju mengeluarkan asap putih, Ryuji yang menyadari hal itu melepaskan mantel tebalnya dan menyelimuti tubuh Anju. “Dasar ceroboh, kau tahu malam ini brgitu dingin?”
“Cerewet sekali!”, lalu Anju tersenyum. “Terimakasih.”
Kemudian keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap langit bertabur bintang.
“Anju-chan,” Ryuji memulai percakapan. “Ada yang harus aku katakan padamu.”
“Apa itu? Katakan saja,” Anju menoleh lalu tersenyum dengan wajahnya yang pucat pasi.
“Apa selama ini kau hanya menganggapku sebagai teman? Maksudku...aku bingung harus memulainya dari mana?”, Ryuji ingin mengatakan perasaannya sekarang. Oh Tuhan, beranikan Ryuji sebelum semuanya hilang.
“Kenapa? Kau tidak suka berteman denganku?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Hanya saja...bisakah aku lebih dari seorang teman untukmu?”
Anju mengerutkan keningnya lalu tiba-tiba ia tersipu malu, sepertinya ia tahu maksud dari perkataan Ryuji.
“A-aku menyukai Sendo Anju. Sudah lama...sudah lama aku memendam perasaan ini padamu”, Ryuji menundukkan kepala.
“Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”, ada nada sendu dari ucapan Anju.
“Maafkan aku. Aku takut merusak persahabatan kita, lagipula kau selalu..”
“Takaba Ryuji. Aku..juga menyukaimu.” Anju memotong perkataan Ryuji. Tuhan, lihatlah mereka saling mencintai, apakah Anju benar-benar harus meninggalkan Ryuji?
Anju menangis sedangkan Ryuji terkejut sekaligus bahagia. Perlahan Ryuji merangkul tubuh Anju dan memeluknya, ia sungguh tidak ingin melihat gadis itu menangis dihadapannya.
“Anju-chan. Kumohon jangan menangis seperti ini , aku hanya ingin melihat senyummu, kau mengerti?”
“Iya, Ryu.” Anju mengangguk dan tersenyum.
“Dan tetaplah bersamaku, mengerti?”, kali ini Anju tak menjawab.
“Kenapa diam? Jawab aku, An!” ia tetap tak bergeming. Lengan Anju yang tadinya menempel dipunggung Ryuji terkulai, Anju menutup matanya.
“Kenapa kau tidur? Buka matamu, kau harus menjawab pertanyaanku.” Ryuji gemetar, tangannya dingin dan dadanya terasa sakit. Ia meneteskan airmata dan tetap memeluk tubuh kaku Anju. Setelah peristiwa menyesakkan itu, Anju tidak membuka matanya lagi dan tidak berlari di lapangan lagi, sedangkan Ryuji tidak melihat  gadis itu menangis bahkan tidak lagi melihat senyumannya. Terimakasih Tuhan, Ryuji setidaknya lega karena ia bisa menyatakan perasaannya sebelum semuanya hilang.

***

“Ryu, tangkap aku kalau bisa!” teriak Anju kecil sambil berlarian di sekitar pohon rindang.
“Berhentilah berlari Anju nakal. Nanti kau bisa terjatuh lagi!”, Ryuji kecil yang sedang duduk di pohon itu beranjak lalu mengejar Anju. Yang dikejar malah tertawa riang menggemaska , rambut panjangnya tertiup angin yang lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar