Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Berlarilah, Anju!


Berlarilah, Anju!


 #Sebelumnya aku buat cerpen http://arhayesungieminnie.blogspot.com/2012/12/love-in-seoul-cerpen.html silahkan klik ^^#

Sendo Anju terus berlari menuju finish, keringatnya bercucuran dan nafasnya semakin sesak tapi  kedua kaki yang kokoh masih mantap menopang tubuhnya. Sekarang garis finish sudah semakin dekat, sorak penonton yang memberi dukungan begitu antusias bak seekor monyet mendapat pisang. Diantara mereka, ada seorang lelaki yang bernama Takaba Ryuji melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak. “Anju-chan, berjuanglah. Kau bisa melakukannya!”
Anju tak begitu mendengar suara Ryuji dengan jelas, namun ajaibnya dukungan dari Ryuji membuat Anju melewati para pelari lainnya, dan...akhirnya Anju menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya digaris finish. Sontak, semua penonton berdiri dan bersorak gembira, sedangkan sang juara lomba lari maraton tingkat nasional itu melambaikan kedua tangannya walaupun nafasnya masih terengah-engah.

***
Anju dan Ryuji duduk dibangku penonton yang sudah kosong. “Ini untukmu”, Ryuji memberikan sebotol air minum untuk Anju.
“Terimakasih, Ryu”, Anju tersenyum lalu meneguk air botol berisotonik itu.
“Kau sudah bekerja keras, An. Tapi kakimu tidak terluka, kan?”
“Tidak. Hanya saja...saat berlari tadi, dadaku terasa sesak. Diperlombaan sebelumnya aku tidak pernah sesesak itu. Tapi, kau tak perlu khawatir.”
“Baiklah. Aku harap, nanti kau tak akan merasa sesak lagi saat berlari,” Ryuji mengusap-usap rambut pendek Anju.
“Semoga saja,” singkat Anju sambil tersenyum.”Ngomong-ngomong, apa ayah dan ibuku datang kemari? Sepertinya aku tak melihat mereka.”
Ryuji diam sejenak. “Aku menyesal mengatakan ini, tapi mereka tidak bisa datang karena...ya, kau tahu sendiri, kedua orangtuamu selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.”
Mimik wajah Anju berubah. “Jadi untuk apa aku mendapat piala ini jika mereka tidak melihatku berlari?”, Anju menatap pialanya sambil termenung.
“Ayolah, An. Jangan seperti itu, masih ada aku disini,” Ryuji berusaha mengembalikan senyuman Anju yang memudar.
“Ya. Kau memang teman terbaikku, Ryu.”
“Teman? Ah...ya, teman, tentu saja kita berteman”, Ryuji memaksakan seulas senyuman. Mengapa Anju tidak mengerti juga? Jelas-jelas Ryuji menyukai Anju, kalau tidak, untuk apa Ryuji selalu mendukungnya saat Anju akan mengikuti lomba lari? Untuk apa Ryuji selalu menemani Anju saat kesepian karena sering ditinggal orangtuanya pergi bekerja? Dan, untuk apa Ryuji pindah ke sekolah Seiryu hanya untuk melihat Anju? Ryuji sungguh tak mengerti mengapa Anju menganggapnya hanya sebagai teman.
“Ryu, aku senang kau selalu menemaniku. Apa jadinya jika kau tidak pindah ke Kyoto dan satu sekolah denganku?”, Anju membuyarkan lamunan Ryuji.
Ryuji tersenyum. “Syukurlah kau senang, karena aku merasa harus tinggal di Kyoto dan menjagamu sesuai janjiku sewaktu kita kecil.
Sembilan tahun yang lalu di Kyoto.
Ryuji dan Anju kecil sedang bermain di bawah pohon besar nan rindang, rumput-rumput hijau yang bergoyang tertipu angin begitu lembut menyentuh kulit.
“Ryu-chan, jika nanti kau sudah besar mau jadi apa?”, Anju kecil yang memiliki rambut panjang lurus bertanya dengan riang.
Ryuji kecil yang tengah beridri menoleh dan duduk disamping Anju. “Aku ingin ikut kejuaraan Kenpo, mewakili Jepang dan mendapat mendali emas!”, Ryuji tersenyum lebar, sampai-sampai mata sipitnya terlihat menggemaskan.”Anju-chan?”
“Aku ingin menjadi seorang pelari maraton yang hebat”, seru Anju membayangkan dirinya berlari dengan gesit di lapangan.
“Lari maraton itu melelahkan, An.”
“Tidak. Karena aku suka berlari, lihat aku...”, Anju kecil berdiri lalu berlari penuh semangat diatas rumput-rumput itu. Tiba-tiba Anju terjatuh tersandung rok panjangnya lalu menangis.
Ryuji terkejut dan menghampiri Anju. “Ada yang luka? Aku tahu kau suka berlari tapi harus hati-hati, mengerti?”, Ryuji membersihkan kerikil-kerikil kecil di kedua lutut Anju. Anju tidak menjawab, ia hanya bisa menangis.
“Jangan menangis. Aku janji akan menjagamu sampai kapanpun, Anju-chan.”

“Tapi mulai besok, aku tidak akan ada di Kyoto. Aku akan mengikuti pelatihan dan mengikuti pertandingan Kenpo di Tokyo. Aku tak tahu berapa lama aku disana. Jadi, maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf? Aku janji, walaupun kau tak ada. Aku akan baik-baik saja. Sungguh”, Anju berusaha menenangkan Ryuji.
“Baiklah, aku pegang janjimu”, Ryuji tersenyum.

***
Dua minggu kemudian,
“Akhirnya aku kembali ke Kyoto”, Ryuji turun dari kereta ekspres dan menghela nafas panjang. Ia melirik mendali emas di tangan kanannya sambil tersenyum lebar dan membayangkan wajah Anju, namun Ryuji tidak tahu apa yang terjadi selama ia berada di Tokyo.
Kini Ryuji sedang menunggu bus di halte untuk pulang ke rumah. Cuaca hari ini tampak mendung, ia harus segera tiba di rumah sebelum hujan turun. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti dihadapannya, orang yang ada di dalamnya membuka kaca mobil.
”Ryuji-san, kemarilah. Ikutlah denganku”, Ryuji mengenal lelaki separuh baya itu. Ayahnya Anju, Sendo Akira dan yang duduk disebelahnya adalah Sendo Hinata, ibunya Anju.
“Naiklah, nak. Kurasa Anju membutuhkanmu”, ajak ibunya Anju dengan wajah cemas. Ryuji berpikir, ada apa ini? Kenapa dengan Anju?
Akhirnya Ryuji ikut bersama orangtua Anju ke rumah sakit, ya..rumah sakit. Ryuji tidak tahu bahwa Anju saat ini sedang berjuang melawan maut. Mengapa? Rupanya rasa sesak dan lelah luar biasa yang dialami Anju dua minggu yang lalu telah membuatnya menderita kanker paru-paru.
“Bagaimana ini bisa terjadi, paman?”, tubuh Ryuji lemas seketika setelah ia tahu apa yang terjadi dengan Anju, gadis yang selalu ia jaga.
“Semua ini salah kami. Kami orangtua yang buruk bagi Anju, aku tidak tahu bahwa putriku sendiri mengidap penyakit seberat itu”, Sendo Akira menundukkan kepala, ia melepaskan kacamatanya untuk menyeka airmata yang mulai mengalir.
“Ini juga salahku, paman. Karena aku tidak sepenuhnya menjaga Anju”, Ryuji menghela nafas menenangkan diri. “Tapi aku akan menebus kesalahanku. Aku akan selalu menjaga Anju dan memberinya semangat.”
Seno Akira tersenyum. “Kau memang anak yang baik Ryuji, tapi jangan memaksakan dirimu”, ia menepuk-nepuk bahu Ryuji.
“Benar. Lebih baik kau temui Anju di dalam sekarang”, Seno Hinata yang mendengar percakapan suaminya dan Ryuji keluar dari ruangan Anju.
”Baiklah,” Ryuji langsung melesat ke dalam ruangan. Lihatlah Anju, ia terbaring sambil tersenyum pucat melihat kedatangan teman terbaiknya itu. Ryuji benar-benar tak ingin melihat Anju dengan keadaan seperti itu. Sungguh!
“Kapan kau datang, Ryu?”
“Aku baru saja kembali dan langsung ikut dengan ayah dan ibumu kemari”, Ryuji mencoba tak menampakkan perasaan cemasnya.
“Benarkah? Kau pasti lelah, tidak perlu memaksakan diri.”
Ryuji tersenyum. “Apa kau dan ayahmu sekongkol? Kalian mengatakan hal sama.”
Anju tertawa. Tampaknya suasana hati Anju mulai membaik setelah kedatangan Ryuji.

***
Pagi ini cuaca sangat cerah, Ryuji membawa sekotak makanan untuk sarapan paginya Anju.
“Anju-chan, waktunya makan”, Ryuji mengangkat kotak makanan dengan tersenyum ceria.
Anju yang tadinya sedang menyisir rambut menoleh dan tersenyum lebar.
“Waktu begitu cepat berlalu, lihatlah rambutmu sudah hampir sebahu”, Ryuji menghampiri Anju dan mulai membuka kotak makanan.
“Aku juga sudah lama berhenti berlari.”
Melihat wajah sedih Anju, Ryuji mengelus rambut gadis itu.”Ayolah, aku disini bukan untuk melihat kau bersedih. Aku akan selalu menjaga dan menghibur Anju yang manis ini.” Rayuan dari Ryuji berhasil membuat Anju tersenyum. Ajaib.
Sementara itu diruangan dokter, keluarga Sendo mendengar kabar yang sangat menyakitkan.
“Tidak mungkin. Dokter pasti salah, bagimana mungkin putriku hidupnya tak akan lama lagi”, Sendo Hinata menangis.
“Berapa lama Anju akan bertahan, dok?” Sendo Akira bertanya cemas.
“Kemungkinan sekitar satu atau dua bulan lagi”, jawab Dokter Nishimura dengan berat hati.
Tepat pada saat itu Anju menjatuhkan gelas, Ryuji menoleh kearah Anju dan menghampirinya. “Kau tidak apa-apa, An?”
Anju menggelangkan kepala namun entah mengapa ia merasa akan ada hal yang buruk terjadi.

***
Waktu begitu cepat berlalu. Ryuji duduk termenung diruang tunggu rumah sakit, sesekali ia menghela nafas dan memandang foto Anju bersamanya di ponsel. Ryuji tahu bahwa tak lama lagi ia akan kehilangan Anju, gadis manis yang sangat dicintainya.
“Anju-chan, haruskah aku menyatakan persaanku sebelum semuanya berakhir?”, Ryuji bergumam membelai foto Anju. Selama ini, Ryuji masih belum bisa memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Anju.
“Ryu, aku ingin jalan-jalan keluar. Temani aku,” Anju yang tiba-tiba keluar dari ruangannya menghampiri Ryuji yang duduk menatap ponsel.
“Baiklah. Mari aku bantu berjalan”, Ryuji menoleh lalu menopang lengan kiri Anju.
Anju tersenyum. ”Dulu aku adalah seorang pelari. Tapi sekarang, untuk berjalan pun aku masih dibantu oleh orang lain.”
“Siapa yang kau sebut orang lain? Aku kan te-teman terbaikmu”, rasanya sulit sekali bagi Ryuji untuk mengatakan bahwa ia adalah temannya Anju, Ryuji ingin lebih dari itu!
“Ryu, ayo kita duduk di ayunan itu”, Anju menunjuk ayunan panjang yang berada di halaman belakang rumah sakit. Ryuji hanya mengangguk.
Udara malam yang dingin membuat mulut Anju mengeluarkan asap putih, Ryuji yang menyadari hal itu melepaskan mantel tebalnya dan menyelimuti tubuh Anju. “Dasar ceroboh, kau tahu malam ini brgitu dingin?”
“Cerewet sekali!”, lalu Anju tersenyum. “Terimakasih.”
Kemudian keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap langit bertabur bintang.
“Anju-chan,” Ryuji memulai percakapan. “Ada yang harus aku katakan padamu.”
“Apa itu? Katakan saja,” Anju menoleh lalu tersenyum dengan wajahnya yang pucat pasi.
“Apa selama ini kau hanya menganggapku sebagai teman? Maksudku...aku bingung harus memulainya dari mana?”, Ryuji ingin mengatakan perasaannya sekarang. Oh Tuhan, beranikan Ryuji sebelum semuanya hilang.
“Kenapa? Kau tidak suka berteman denganku?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Hanya saja...bisakah aku lebih dari seorang teman untukmu?”
Anju mengerutkan keningnya lalu tiba-tiba ia tersipu malu, sepertinya ia tahu maksud dari perkataan Ryuji.
“A-aku menyukai Sendo Anju. Sudah lama...sudah lama aku memendam perasaan ini padamu”, Ryuji menundukkan kepala.
“Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”, ada nada sendu dari ucapan Anju.
“Maafkan aku. Aku takut merusak persahabatan kita, lagipula kau selalu..”
“Takaba Ryuji. Aku..juga menyukaimu.” Anju memotong perkataan Ryuji. Tuhan, lihatlah mereka saling mencintai, apakah Anju benar-benar harus meninggalkan Ryuji?
Anju menangis sedangkan Ryuji terkejut sekaligus bahagia. Perlahan Ryuji merangkul tubuh Anju dan memeluknya, ia sungguh tidak ingin melihat gadis itu menangis dihadapannya.
“Anju-chan. Kumohon jangan menangis seperti ini , aku hanya ingin melihat senyummu, kau mengerti?”
“Iya, Ryu.” Anju mengangguk dan tersenyum.
“Dan tetaplah bersamaku, mengerti?”, kali ini Anju tak menjawab.
“Kenapa diam? Jawab aku, An!” ia tetap tak bergeming. Lengan Anju yang tadinya menempel dipunggung Ryuji terkulai, Anju menutup matanya.
“Kenapa kau tidur? Buka matamu, kau harus menjawab pertanyaanku.” Ryuji gemetar, tangannya dingin dan dadanya terasa sakit. Ia meneteskan airmata dan tetap memeluk tubuh kaku Anju. Setelah peristiwa menyesakkan itu, Anju tidak membuka matanya lagi dan tidak berlari di lapangan lagi, sedangkan Ryuji tidak melihat  gadis itu menangis bahkan tidak lagi melihat senyumannya. Terimakasih Tuhan, Ryuji setidaknya lega karena ia bisa menyatakan perasaannya sebelum semuanya hilang.

***

“Ryu, tangkap aku kalau bisa!” teriak Anju kecil sambil berlarian di sekitar pohon rindang.
“Berhentilah berlari Anju nakal. Nanti kau bisa terjatuh lagi!”, Ryuji kecil yang sedang duduk di pohon itu beranjak lalu mengejar Anju. Yang dikejar malah tertawa riang menggemaska , rambut panjangnya tertiup angin yang lembut.

Senin, 10 Desember 2012

Love In Seoul (Cerpen)

Cerpen ini terinspirasi oleh penulis novel yang bernama Ilana Tan ^^




Love In Seoul Aku berlari kecil masuk ke bandara, aku harus menjemput Jong-Woon dari Tokyo setelah proyeknya selesai disana.”Ah~ ­ ­1jinjja! Apakah Jong-Hyun 2ahjussi tidak mengerti bahwa aku membenci anaknya?!” aku melihat sekeliling, bandara itu begitu ramai dan membuatku pusing, aku memang tak begitu suka keramaian.”Apakah ia masih mengenaliku?, ” aku menghela nafas panjang.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sosok lelaki muda bertopi dengan syal biru, berjaket biru lengkap dengan ransel hitam besar dipunggungnya. Aku yakin mengenal orang itu, maka aku menghampirinya dan bertanya. “Jong-Woon sshi, a-ayahmu memintaku untuk menjemputmu. Ja-jadi ayo kita pergi” kataku gugup mendadak tapi tetap memberanikan diri unruk berbicara dengannya.Lelaki itu menatapku. “3Chakaman, kau...”, lelaki yang bernama Kim Jong-Woon itu mengerjapkan matanya, tak sadar aku juga tengah menatapnya, mata Jong-Woon semakin dekat dengan wajahku, lalu tersenyum lebar sampai-sampai mata sipitnya semakin kecil. ”Ternyata benar kau Park Min-Bin, berbeda sekali dengan yang dulu, aku hampir tak mengenalimu,” aku hanya diam dan hanya mengerjapkan mata seperti orang linglung.Aku adalah gadis blasteran Indonesia-Korea, ibuku orang Indonesia yang kemudian menikah dengan ayah orang Korea Selatan, nama asliku Sandra, tapi dinegeri Gingseng ini aku lebih dikenal dengan nama Park Min-Bin. Sejak umurku tujuh tahun aku tinggal dan bersekolah di Seoul karena orangtuaku lebih milih tinggal dan bekerja disini, dulu ketika aku dan Jong-Woon di Gangnam High School, kami tidaklah rukun karena Jong-Woon yang nakal selalu mengganggu bahkan mengejakku ‘si kutu buku’, sungguh menyebalkan! Namun bertemu lagi dengannya setelah lima tahun berlalu, sekarang Jong-Woon terlihat berbeda sama halnya denganku bak kepompong kaku yang berubah menjadi seekor kupu-kupu yang bebas terbang menyambut indahnya dunia.“Hei...aku memanggilmu, Min-Bin ah”, lamunanku buyar ketika mendengar suara Jong-Woon.”Aku sudah menduga kau akan berbicara seperti itu. Ya, ini memang aku, gadis lugu yang selalu kau ganggu!”, jawabku kesal dan menggembungkan pipiku.“Min-Bin ah, kau lucu sekali.” Jong-Woon tertawa dan mencubit kedua pipiku yang masih kembung. “Tidakkah kau lihat aku berusaha tersenyum manis padamu?”, dia melepas cubitannya tapi jantungku malah berdetak kencang. Gelisah, kenapa? Tenangkanlah dirimu, Sandra.
“Lupakanlah Jong-Woon yang dulu. Dan kurasa, kau banyak berubah dari cara bicara dan pakaianmu”, Jong-Woon melihatku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, dan akhirnya memandang mataku.“Mata bulatmu juga tampak lebih menggemaskan tanpa kacamata besar yang selalu kau pakai dulu””Jangan berani-berani menggodaku. Dan lagipula semua orang bisa saja berubah, bukan?”“Baiklah aku menyerah. Ayo kita pergi”, Jong-Woon menarik tanganku untuk keluar bandara. 
1benar-benar (ekspresi kesal)
2paman
3tunggu
***
Jong-Hyun ahjussi membukakan pintu setelah bel rumah berbunyi tiga kali seraya memeluk anaknya begitu hangat.“Jong-Woon ah, akhirnya kau datang”. Aku hanya tersenyum melihat kedua lelaki itu saling melepas rindu. Jong-Hyun ahjussi menoleh kearahku dan melepaskan pelukannya dari Jong-Woon.“Min-Bin 1kamsahamnida sudah bersedia menjemput Jong-Woon, tak keberatan bukan?”2Aniya ahjussi, aku tak keberatan sama sekali. Lagipula 3appa sudah menganggap ahjussi sebagai saudaranya sendiri”4Geuraeseo? Ayo sekarang kalian masuklah dulu. Aku akan membuatkan teh gingseng untuk kalian berdua. Dan, sepertinya ada teman lamamu yang sudah menunggu didalam, namanya Jung Tae-Hee”“Ternyata dia benar- benar mentepati kata-katanya”, Jong-Woon tersenyum. Sedangkan aku terkejut setengah mati, Jung Tae-Hee? Tidak, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya, aku menggelengkan kepala keras-keras.“Min-Bin ah, sampai kapan kau akan berdiri disana? Masuklah.” Untuk yang kedua kalinya aku tersentak saat Jong-Woon memanggilku dan...menarik tanganku? Lagi? Ya, tak lupa jantungku tiba-tiba berdebar kencang lagi, sepertinya ada masalah dengan jantungku.
 ***“Jong-Woon ah, lama tak bertemu, kau sudah banyak berubah sekarang. Tapi, apakah kau masih sama jailnya seperti dulu?,” Tae-Hee tertawa kecil lalu memamerkan senyuman termanisnya.“Aku berubah sepenuhnya, termasuk kenakalanku dulu. Sebaliknya, kau sama sekali tak berubah”, Jong-Woon hanya tersenyum kecil dan meletakkan ransel hitamnya itu diatas sofa. Tae-Hee menoleh padaku yang berdiri kikuk disamping Jong-Woon, seketika ekspresi wajahnya pun berubah drastis.“Dan kau...Park Min-Bin? Tidak salah? Maksudku, kau dulu ‘si kutu buku’ dan berkacamata besar, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?”, Tae-Hee tersenyum ketus. Oh, aku sungguh tidak suka kata-kata sumbang itu. Lihatlah wajah jahatnya, didalam kartun mungkin dia sudah muncul dua tanduk dikepalanya.
“Ya, semua orang bisa berubah”, Jong-Woon mengutip kata-kataku dan itu artinya ia tak terlalu menanggapi perkataan Tae-Hee, sama seperti aku yang tak mempedulikan candaan dari Jong-Woon.“Baiklah sepertinya kalian begitu akrab. Ini teh gingseng hangatnya, jangan lupa diminum karena udara hari ini cukup dingin, dan aku akan pergi ke kantor dulu. Anggap saja rumah sendiri, ” Jong-Hyun ahjussi melepaskan celemeknya lalu meraih jasnya yang menggantung di gantungan pakaian.Appa chakaman, biar aku mengantarmu keluar, Jong-Woon merangkul ayahnya.“Ah...anak ini. Jika kau memaksa,” Jong-Hyun ahjussi tersenyum dengan pipi keriputnya.Aku menundukkan kepala, dan mngucapkan sampai jumpa. Setelah punggung kedua lelaki itu hilang dari pandanganku, Tae-Hee mulai berbicara.“Aku tak tahu sedekat apapun kau dengan Jong-Woon saat ini. Tapi...” ia menatap tajam, “kau tak bisa mengambil Jong-Woon dariku!”“Tapi bukan salahku jika nanti Jong-Woon malah tertarik padaku,” kali ini aku tak mau diam seperti orang bodoh dihadapannya. 
 
1terimaksih
2tidak paman
3ayah (abeoji)
***Seminggu berlalu setelah aku menjemput Jong-Woon dari bandara. Hari minggu adalah dimana aku harus atau wajib bangun pukul delapan pagi karena jadwal melatih tari balet juga libur.Ponselku bernyanyi Replay milik SHINee dangan keras, aku meraba-raba banda yang berbunyi itu disebelah kanan dan kiriku. Dapat!1Yeoboseyo..” mataku masih tertutup. “Sayang, maaf mami papi harus pergi ke Daegu karena ada urusan pekerjaan,” aku membuka mata dan langsung berbicara dalam bahasa Indonesia. “Tapi kenapa gak siang aja mi?”“Ini mendadak, sayang. Maaf kita gak sempat kasih tahu, jangan lupa makan, ada bubur dan kimchi dirumah.”“Perginya jangan lama ya, mi?!” Celotehku dengan nada lemas.“Nanti mami kasih tahu lagi kalo mau pulang. Bye, sayang”“Bye, mami”, setelah menutup ponsel tiba-tiba benda itu berbunyi lagi. Ah, mami ada apa lagi, sih?! Aku menekan tombol hijau pada ponsel tanpa melihat siapa yang menelepon.“Mami jangan khawatirkan aku, aku akan makan dengan baik!”“Min-Bin ah, aku tak mengerti apa yang kau katakan”. Aku terkejut, terdengar suara lelaki berbicara dalam bahasa Korea diseberang sana, bukan mami?. Sontak aku beralih berbicara dalam bahasa Korea kembali.2Omona Jong-Woon ah, aku kira bukan kau. 3Mianhae”, aku melirik jam dinding yang terpanjang manis disebelah kiriku, tujuh pagi! Satu jam waktu tidurku terbuang.4Gwenchana, kuharap aku mengganggumu karena hari ini aku ingin kau menemaniku se suatu tempat. Aku tunggu...sekitar pukul sembilan, aku akan menjemputmu jadi bersiaplah. Semoga pagimu indah, bye”, suara Jong-Woon terdengar ceria dan baru saja aku akan mengatakan sesuatu, tapi Jong-Woon langsung mengakhiri pembicaraan bahkan tak diberi kesempatan untuk menjawab.Ah, kenapa orang-orang begitu egois pagi ini? Aku hanya mendesah dan mulai melangkah ke kamar mandi dengan langkah lemas.
 
 
1hallo
2astaga
3maaf
4tidak apa-apa
 *** Mobil silver milik Jong-Woon melaju mulus di jalan raya yang tak begitu padat.“Sebenarnya kemana kita akan pergi? Apakah kau selalu seenaknya pada orang lain?”, aku duduk disamping Jong-Woon yang sedang menyetir dan terus mengomel sepanjang jalan.“Diamlah  dan duduk yang manis, aku takkan melakukan hal yang buruk padamu. Percayalah”, Jong-Woon menoleh sambil tersenyum padaku.“Ya terserah. Tapi teraktir aku makan!”“Baiklah itu tak masalah”, Jong-Woon tertawa kecil.Akhirnya kami sampai di sebuah mall, Jong-Woon mengajakku untuk memilihkan beberapa pakaian wanita. Untuk siapa?
“Pilih pakaian yang kau sukai”“Apa?”, mataku berhenti melihat-lihat beberapa pakaian yang menggantung manis disekelilingku.“Aku tak bisa berjalan denganmu jika pakaianmu seperti itu”, Jong-Woon memasukkan kedua tangan ke jaket coklatnya sambil menatap pakaianku. Jong-Woon benar, pakaianku memang asal-asalan hari ini, mungkin karena tergesa-gesa. Entahlah.
“Tapi kau tak perlu membeli pakaian untukku.”1Jebal, hanya sekali ini saja”, Jong-Woon merapatkan kedua tangannya dengan mengeluarkan ekspresi seperti seekor kucing yang minta diberi ikan. Aku hanya menarik napas panjang dalam arti ‘apa boleh buat’.
 
1tolong, mohon
 *** Tak terasa hari sudah mulai gelap, perlahan-lahan kami menjadi sangat akrab bahkan aku tak mengomel lagi. Jong-Woon ternyata memiliki selera humor yang tinggi, dan aku suka itu. Jong-Woon benar-benar telah menjadi seorang pria dewasa, dan saat ia tersenyum selalu terlihat manis. Apa? Tidak, aku tidak menyukainya. Bukan seperti itu!“Lihat. Aku benar-benar mentraktirmu makan sekarng, kan?Saat ini kami sedang makan malam disebuah restoran Italia, tempatnya begitu romantis ditambah lagi ada alunan musik klasik khas Italia yang begitu merdu.“Ya, kau benar. 1Gomawo”, aku berusaha tersenyum semanis mungkin.“Jangan berlebihan, bukankah hari ini kencan pertama kita?”, Jong-Woon menatapku. Setelah mendengar perkataan itu, aku tersedak oleh jus alpuket yang tengah kuminum tadi.“Hati-hati. Gwenchana?”, Jong-Woon mengelapkan sapu tangannya ke bibirku yang basah karena jus yang kuminum.“Kau tahu mengapa aku pulang ke Seoul?”“Kurasa tidak. Apakah aku harus mengetahuinya?”Jong-Woon tersenyum. “Tentu. Karena...kau satu-satunya alasanku pulang ke Seoul.”Aku mngerjap-ngerjapkan mata, tak mengerti. “Maksudmu?”2Paboya,” Jong-Woon menyentuh keningku dengan jari telunjuknya. “Aku ingin pulang karena aku sangat merindukanmu.”“Apa yang kau katakan?”“Dengarkan aku,” mata itu mulai menatapku. “Dulu aku selalu mengganggumu karena justru aku menyukaimu. Aneh memang, tapi aku tak tahu harus bagaimana untuk menarik perhatianmu.”“Jong-Woon ah, kau juga bodoh”, aku tersenyum sedangkan Jong-Woon mengerutkan keningnya.“Dengan caramu yang bodoh itu membuatku sangat membencimu.”“Aku ingat,” Jong-Woon mulai menerawang.” Aku menyesal telah merusak coklatmu, kau bertriak padaku sambil menangis. Kau adalah gadis pertama yang menangis dan mengatakan kata benci dihadapanku. Maka dari itu, tak heran kau begitu membenciku.”“Coklat itu akan kuberikan kepada orangtuaku untuk merayakan anniversary mereka yang bertepatan dengan hari valentine, saat itu aku benar-benar marah besar padamu.”“Oh tidak. Aku semakin menyesal, aku kira kau akan memberikan coklat itu kepada orang yang kau sukai”, Jong-Woon mengepalkan kedua tangannya dikepala sambil menunduk.Kali ini aku tertawa. “Lucu sekali. Semua sudah berlalu, aku tak membencimu lagi jadi jangan merasa menyesal seperti itu.”Jong-Woon mengangkat kepalanya.” Huh, aku lega. Karena kau telah memaafkanmu, jadi maukah kau membuka hatimu dan menjadi milikku?”, Jong-Woon menggenggam kedua tanganku. Kami berdua hanya tersenyum berpandangan, hanya dua pasang mata yang bicara.
Kini aku tahu bahwa Jong-Woon telah lama menyukaiku dengan caranya sendiri, begitu pula denganku setelah pertemuan kami di bandara Incheon.Aku berharap waktu dapat berhenti, biarkan aku dan Jong-Woon duduk dibawah cahaya bulan dan bintang.
 
1terimakasih (informal)
2bodoh