Senin, 10 Desember 2012

Love In Seoul (Cerpen)

Cerpen ini terinspirasi oleh penulis novel yang bernama Ilana Tan ^^




Love In Seoul Aku berlari kecil masuk ke bandara, aku harus menjemput Jong-Woon dari Tokyo setelah proyeknya selesai disana.”Ah~ ­ ­1jinjja! Apakah Jong-Hyun 2ahjussi tidak mengerti bahwa aku membenci anaknya?!” aku melihat sekeliling, bandara itu begitu ramai dan membuatku pusing, aku memang tak begitu suka keramaian.”Apakah ia masih mengenaliku?, ” aku menghela nafas panjang.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sosok lelaki muda bertopi dengan syal biru, berjaket biru lengkap dengan ransel hitam besar dipunggungnya. Aku yakin mengenal orang itu, maka aku menghampirinya dan bertanya. “Jong-Woon sshi, a-ayahmu memintaku untuk menjemputmu. Ja-jadi ayo kita pergi” kataku gugup mendadak tapi tetap memberanikan diri unruk berbicara dengannya.Lelaki itu menatapku. “3Chakaman, kau...”, lelaki yang bernama Kim Jong-Woon itu mengerjapkan matanya, tak sadar aku juga tengah menatapnya, mata Jong-Woon semakin dekat dengan wajahku, lalu tersenyum lebar sampai-sampai mata sipitnya semakin kecil. ”Ternyata benar kau Park Min-Bin, berbeda sekali dengan yang dulu, aku hampir tak mengenalimu,” aku hanya diam dan hanya mengerjapkan mata seperti orang linglung.Aku adalah gadis blasteran Indonesia-Korea, ibuku orang Indonesia yang kemudian menikah dengan ayah orang Korea Selatan, nama asliku Sandra, tapi dinegeri Gingseng ini aku lebih dikenal dengan nama Park Min-Bin. Sejak umurku tujuh tahun aku tinggal dan bersekolah di Seoul karena orangtuaku lebih milih tinggal dan bekerja disini, dulu ketika aku dan Jong-Woon di Gangnam High School, kami tidaklah rukun karena Jong-Woon yang nakal selalu mengganggu bahkan mengejakku ‘si kutu buku’, sungguh menyebalkan! Namun bertemu lagi dengannya setelah lima tahun berlalu, sekarang Jong-Woon terlihat berbeda sama halnya denganku bak kepompong kaku yang berubah menjadi seekor kupu-kupu yang bebas terbang menyambut indahnya dunia.“Hei...aku memanggilmu, Min-Bin ah”, lamunanku buyar ketika mendengar suara Jong-Woon.”Aku sudah menduga kau akan berbicara seperti itu. Ya, ini memang aku, gadis lugu yang selalu kau ganggu!”, jawabku kesal dan menggembungkan pipiku.“Min-Bin ah, kau lucu sekali.” Jong-Woon tertawa dan mencubit kedua pipiku yang masih kembung. “Tidakkah kau lihat aku berusaha tersenyum manis padamu?”, dia melepas cubitannya tapi jantungku malah berdetak kencang. Gelisah, kenapa? Tenangkanlah dirimu, Sandra.
“Lupakanlah Jong-Woon yang dulu. Dan kurasa, kau banyak berubah dari cara bicara dan pakaianmu”, Jong-Woon melihatku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, dan akhirnya memandang mataku.“Mata bulatmu juga tampak lebih menggemaskan tanpa kacamata besar yang selalu kau pakai dulu””Jangan berani-berani menggodaku. Dan lagipula semua orang bisa saja berubah, bukan?”“Baiklah aku menyerah. Ayo kita pergi”, Jong-Woon menarik tanganku untuk keluar bandara. 
1benar-benar (ekspresi kesal)
2paman
3tunggu
***
Jong-Hyun ahjussi membukakan pintu setelah bel rumah berbunyi tiga kali seraya memeluk anaknya begitu hangat.“Jong-Woon ah, akhirnya kau datang”. Aku hanya tersenyum melihat kedua lelaki itu saling melepas rindu. Jong-Hyun ahjussi menoleh kearahku dan melepaskan pelukannya dari Jong-Woon.“Min-Bin 1kamsahamnida sudah bersedia menjemput Jong-Woon, tak keberatan bukan?”2Aniya ahjussi, aku tak keberatan sama sekali. Lagipula 3appa sudah menganggap ahjussi sebagai saudaranya sendiri”4Geuraeseo? Ayo sekarang kalian masuklah dulu. Aku akan membuatkan teh gingseng untuk kalian berdua. Dan, sepertinya ada teman lamamu yang sudah menunggu didalam, namanya Jung Tae-Hee”“Ternyata dia benar- benar mentepati kata-katanya”, Jong-Woon tersenyum. Sedangkan aku terkejut setengah mati, Jung Tae-Hee? Tidak, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya, aku menggelengkan kepala keras-keras.“Min-Bin ah, sampai kapan kau akan berdiri disana? Masuklah.” Untuk yang kedua kalinya aku tersentak saat Jong-Woon memanggilku dan...menarik tanganku? Lagi? Ya, tak lupa jantungku tiba-tiba berdebar kencang lagi, sepertinya ada masalah dengan jantungku.
 ***“Jong-Woon ah, lama tak bertemu, kau sudah banyak berubah sekarang. Tapi, apakah kau masih sama jailnya seperti dulu?,” Tae-Hee tertawa kecil lalu memamerkan senyuman termanisnya.“Aku berubah sepenuhnya, termasuk kenakalanku dulu. Sebaliknya, kau sama sekali tak berubah”, Jong-Woon hanya tersenyum kecil dan meletakkan ransel hitamnya itu diatas sofa. Tae-Hee menoleh padaku yang berdiri kikuk disamping Jong-Woon, seketika ekspresi wajahnya pun berubah drastis.“Dan kau...Park Min-Bin? Tidak salah? Maksudku, kau dulu ‘si kutu buku’ dan berkacamata besar, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?”, Tae-Hee tersenyum ketus. Oh, aku sungguh tidak suka kata-kata sumbang itu. Lihatlah wajah jahatnya, didalam kartun mungkin dia sudah muncul dua tanduk dikepalanya.
“Ya, semua orang bisa berubah”, Jong-Woon mengutip kata-kataku dan itu artinya ia tak terlalu menanggapi perkataan Tae-Hee, sama seperti aku yang tak mempedulikan candaan dari Jong-Woon.“Baiklah sepertinya kalian begitu akrab. Ini teh gingseng hangatnya, jangan lupa diminum karena udara hari ini cukup dingin, dan aku akan pergi ke kantor dulu. Anggap saja rumah sendiri, ” Jong-Hyun ahjussi melepaskan celemeknya lalu meraih jasnya yang menggantung di gantungan pakaian.Appa chakaman, biar aku mengantarmu keluar, Jong-Woon merangkul ayahnya.“Ah...anak ini. Jika kau memaksa,” Jong-Hyun ahjussi tersenyum dengan pipi keriputnya.Aku menundukkan kepala, dan mngucapkan sampai jumpa. Setelah punggung kedua lelaki itu hilang dari pandanganku, Tae-Hee mulai berbicara.“Aku tak tahu sedekat apapun kau dengan Jong-Woon saat ini. Tapi...” ia menatap tajam, “kau tak bisa mengambil Jong-Woon dariku!”“Tapi bukan salahku jika nanti Jong-Woon malah tertarik padaku,” kali ini aku tak mau diam seperti orang bodoh dihadapannya. 
 
1terimaksih
2tidak paman
3ayah (abeoji)
***Seminggu berlalu setelah aku menjemput Jong-Woon dari bandara. Hari minggu adalah dimana aku harus atau wajib bangun pukul delapan pagi karena jadwal melatih tari balet juga libur.Ponselku bernyanyi Replay milik SHINee dangan keras, aku meraba-raba banda yang berbunyi itu disebelah kanan dan kiriku. Dapat!1Yeoboseyo..” mataku masih tertutup. “Sayang, maaf mami papi harus pergi ke Daegu karena ada urusan pekerjaan,” aku membuka mata dan langsung berbicara dalam bahasa Indonesia. “Tapi kenapa gak siang aja mi?”“Ini mendadak, sayang. Maaf kita gak sempat kasih tahu, jangan lupa makan, ada bubur dan kimchi dirumah.”“Perginya jangan lama ya, mi?!” Celotehku dengan nada lemas.“Nanti mami kasih tahu lagi kalo mau pulang. Bye, sayang”“Bye, mami”, setelah menutup ponsel tiba-tiba benda itu berbunyi lagi. Ah, mami ada apa lagi, sih?! Aku menekan tombol hijau pada ponsel tanpa melihat siapa yang menelepon.“Mami jangan khawatirkan aku, aku akan makan dengan baik!”“Min-Bin ah, aku tak mengerti apa yang kau katakan”. Aku terkejut, terdengar suara lelaki berbicara dalam bahasa Korea diseberang sana, bukan mami?. Sontak aku beralih berbicara dalam bahasa Korea kembali.2Omona Jong-Woon ah, aku kira bukan kau. 3Mianhae”, aku melirik jam dinding yang terpanjang manis disebelah kiriku, tujuh pagi! Satu jam waktu tidurku terbuang.4Gwenchana, kuharap aku mengganggumu karena hari ini aku ingin kau menemaniku se suatu tempat. Aku tunggu...sekitar pukul sembilan, aku akan menjemputmu jadi bersiaplah. Semoga pagimu indah, bye”, suara Jong-Woon terdengar ceria dan baru saja aku akan mengatakan sesuatu, tapi Jong-Woon langsung mengakhiri pembicaraan bahkan tak diberi kesempatan untuk menjawab.Ah, kenapa orang-orang begitu egois pagi ini? Aku hanya mendesah dan mulai melangkah ke kamar mandi dengan langkah lemas.
 
 
1hallo
2astaga
3maaf
4tidak apa-apa
 *** Mobil silver milik Jong-Woon melaju mulus di jalan raya yang tak begitu padat.“Sebenarnya kemana kita akan pergi? Apakah kau selalu seenaknya pada orang lain?”, aku duduk disamping Jong-Woon yang sedang menyetir dan terus mengomel sepanjang jalan.“Diamlah  dan duduk yang manis, aku takkan melakukan hal yang buruk padamu. Percayalah”, Jong-Woon menoleh sambil tersenyum padaku.“Ya terserah. Tapi teraktir aku makan!”“Baiklah itu tak masalah”, Jong-Woon tertawa kecil.Akhirnya kami sampai di sebuah mall, Jong-Woon mengajakku untuk memilihkan beberapa pakaian wanita. Untuk siapa?
“Pilih pakaian yang kau sukai”“Apa?”, mataku berhenti melihat-lihat beberapa pakaian yang menggantung manis disekelilingku.“Aku tak bisa berjalan denganmu jika pakaianmu seperti itu”, Jong-Woon memasukkan kedua tangan ke jaket coklatnya sambil menatap pakaianku. Jong-Woon benar, pakaianku memang asal-asalan hari ini, mungkin karena tergesa-gesa. Entahlah.
“Tapi kau tak perlu membeli pakaian untukku.”1Jebal, hanya sekali ini saja”, Jong-Woon merapatkan kedua tangannya dengan mengeluarkan ekspresi seperti seekor kucing yang minta diberi ikan. Aku hanya menarik napas panjang dalam arti ‘apa boleh buat’.
 
1tolong, mohon
 *** Tak terasa hari sudah mulai gelap, perlahan-lahan kami menjadi sangat akrab bahkan aku tak mengomel lagi. Jong-Woon ternyata memiliki selera humor yang tinggi, dan aku suka itu. Jong-Woon benar-benar telah menjadi seorang pria dewasa, dan saat ia tersenyum selalu terlihat manis. Apa? Tidak, aku tidak menyukainya. Bukan seperti itu!“Lihat. Aku benar-benar mentraktirmu makan sekarng, kan?Saat ini kami sedang makan malam disebuah restoran Italia, tempatnya begitu romantis ditambah lagi ada alunan musik klasik khas Italia yang begitu merdu.“Ya, kau benar. 1Gomawo”, aku berusaha tersenyum semanis mungkin.“Jangan berlebihan, bukankah hari ini kencan pertama kita?”, Jong-Woon menatapku. Setelah mendengar perkataan itu, aku tersedak oleh jus alpuket yang tengah kuminum tadi.“Hati-hati. Gwenchana?”, Jong-Woon mengelapkan sapu tangannya ke bibirku yang basah karena jus yang kuminum.“Kau tahu mengapa aku pulang ke Seoul?”“Kurasa tidak. Apakah aku harus mengetahuinya?”Jong-Woon tersenyum. “Tentu. Karena...kau satu-satunya alasanku pulang ke Seoul.”Aku mngerjap-ngerjapkan mata, tak mengerti. “Maksudmu?”2Paboya,” Jong-Woon menyentuh keningku dengan jari telunjuknya. “Aku ingin pulang karena aku sangat merindukanmu.”“Apa yang kau katakan?”“Dengarkan aku,” mata itu mulai menatapku. “Dulu aku selalu mengganggumu karena justru aku menyukaimu. Aneh memang, tapi aku tak tahu harus bagaimana untuk menarik perhatianmu.”“Jong-Woon ah, kau juga bodoh”, aku tersenyum sedangkan Jong-Woon mengerutkan keningnya.“Dengan caramu yang bodoh itu membuatku sangat membencimu.”“Aku ingat,” Jong-Woon mulai menerawang.” Aku menyesal telah merusak coklatmu, kau bertriak padaku sambil menangis. Kau adalah gadis pertama yang menangis dan mengatakan kata benci dihadapanku. Maka dari itu, tak heran kau begitu membenciku.”“Coklat itu akan kuberikan kepada orangtuaku untuk merayakan anniversary mereka yang bertepatan dengan hari valentine, saat itu aku benar-benar marah besar padamu.”“Oh tidak. Aku semakin menyesal, aku kira kau akan memberikan coklat itu kepada orang yang kau sukai”, Jong-Woon mengepalkan kedua tangannya dikepala sambil menunduk.Kali ini aku tertawa. “Lucu sekali. Semua sudah berlalu, aku tak membencimu lagi jadi jangan merasa menyesal seperti itu.”Jong-Woon mengangkat kepalanya.” Huh, aku lega. Karena kau telah memaafkanmu, jadi maukah kau membuka hatimu dan menjadi milikku?”, Jong-Woon menggenggam kedua tanganku. Kami berdua hanya tersenyum berpandangan, hanya dua pasang mata yang bicara.
Kini aku tahu bahwa Jong-Woon telah lama menyukaiku dengan caranya sendiri, begitu pula denganku setelah pertemuan kami di bandara Incheon.Aku berharap waktu dapat berhenti, biarkan aku dan Jong-Woon duduk dibawah cahaya bulan dan bintang.
 
1terimakasih (informal)
2bodoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar