Love In Seoul Aku berlari
kecil masuk ke bandara, aku harus menjemput Jong-Woon dari Tokyo setelah
proyeknya selesai disana.”Ah~ 1jinjja! Apakah Jong-Hyun 2ahjussi tidak mengerti bahwa aku
membenci anaknya?!” aku melihat sekeliling, bandara itu begitu ramai dan
membuatku pusing, aku memang tak begitu suka keramaian.”Apakah ia masih
mengenaliku?, ” aku menghela nafas panjang.
Tiba-tiba
dari kejauhan terlihat sosok lelaki muda bertopi dengan syal biru, berjaket biru lengkap dengan ransel hitam besar dipunggungnya.
Aku yakin mengenal orang itu, maka aku menghampirinya dan bertanya. “Jong-Woon sshi, a-ayahmu memintaku untuk
menjemputmu. Ja-jadi ayo kita pergi” kataku gugup mendadak tapi tetap
memberanikan diri unruk berbicara dengannya.Lelaki itu
menatapku. “3Chakaman, kau...”,
lelaki yang bernama Kim Jong-Woon itu mengerjapkan matanya, tak sadar aku juga
tengah menatapnya, mata Jong-Woon semakin dekat dengan wajahku, lalu tersenyum
lebar sampai-sampai mata sipitnya semakin kecil. ”Ternyata benar kau Park
Min-Bin, berbeda sekali dengan yang dulu, aku hampir tak mengenalimu,” aku
hanya diam dan hanya mengerjapkan mata seperti orang linglung.Aku adalah gadis blasteran
Indonesia-Korea, ibuku orang Indonesia yang kemudian menikah dengan ayah orang
Korea Selatan, nama asliku Sandra, tapi dinegeri Gingseng ini aku lebih dikenal
dengan nama Park Min-Bin. Sejak umurku tujuh tahun aku tinggal dan bersekolah
di Seoul karena orangtuaku lebih milih tinggal dan bekerja disini, dulu ketika
aku dan Jong-Woon di Gangnam High School, kami tidaklah rukun karena Jong-Woon
yang nakal selalu mengganggu bahkan mengejakku ‘si kutu buku’, sungguh
menyebalkan! Namun bertemu lagi dengannya setelah lima tahun berlalu, sekarang
Jong-Woon terlihat berbeda sama halnya denganku bak kepompong kaku yang berubah
menjadi seekor kupu-kupu yang bebas terbang menyambut indahnya dunia.“Hei...aku
memanggilmu, Min-Bin ah”, lamunanku
buyar ketika mendengar suara Jong-Woon.”Aku sudah
menduga kau akan berbicara seperti itu. Ya, ini memang aku, gadis lugu yang
selalu kau ganggu!”, jawabku kesal dan menggembungkan pipiku.“Min-Bin ah, kau lucu sekali.” Jong-Woon tertawa
dan mencubit kedua pipiku yang masih kembung. “Tidakkah kau lihat aku berusaha
tersenyum manis padamu?”, dia melepas cubitannya tapi jantungku malah berdetak
kencang. Gelisah, kenapa? Tenangkanlah
dirimu, Sandra.
“Lupakanlah
Jong-Woon yang dulu. Dan kurasa, kau banyak berubah dari cara bicara dan pakaianmu”,
Jong-Woon melihatku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, dan akhirnya
memandang mataku.“Mata
bulatmu juga tampak lebih menggemaskan tanpa kacamata besar yang selalu kau
pakai dulu””Jangan
berani-berani menggodaku. Dan lagipula semua orang bisa saja berubah, bukan?”“Baiklah aku
menyerah. Ayo kita pergi”, Jong-Woon menarik tanganku untuk keluar bandara.
1benar-benar
(ekspresi kesal)
2paman
3tunggu
***
Jong-Hyun ahjussi membukakan pintu setelah bel
rumah berbunyi tiga kali seraya memeluk anaknya begitu hangat.“Jong-Woon ah, akhirnya kau datang”. Aku hanya
tersenyum melihat kedua lelaki itu saling melepas rindu. Jong-Hyun ahjussi menoleh kearahku dan melepaskan
pelukannya dari Jong-Woon.“Min-Bin 1kamsahamnida sudah bersedia menjemput
Jong-Woon, tak keberatan bukan?”“2Aniya ahjussi, aku tak keberatan sama
sekali. Lagipula 3appa sudah
menganggap ahjussi sebagai saudaranya
sendiri”“4Geuraeseo? Ayo sekarang kalian masuklah
dulu. Aku akan membuatkan teh gingseng untuk kalian berdua. Dan, sepertinya ada
teman lamamu yang sudah menunggu didalam, namanya Jung Tae-Hee”“Ternyata
dia benar- benar mentepati kata-katanya”, Jong-Woon tersenyum. Sedangkan aku
terkejut setengah mati, Jung Tae-Hee?
Tidak, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya, aku menggelengkan kepala
keras-keras.“Min-Bin ah, sampai kapan kau akan berdiri
disana? Masuklah.” Untuk yang kedua kalinya aku tersentak saat Jong-Woon
memanggilku dan...menarik tanganku? Lagi? Ya, tak lupa jantungku tiba-tiba
berdebar kencang lagi, sepertinya ada
masalah dengan jantungku.
***“Jong-Woon ah, lama tak bertemu, kau sudah banyak
berubah sekarang. Tapi, apakah kau masih sama jailnya seperti dulu?,” Tae-Hee
tertawa kecil lalu memamerkan senyuman termanisnya.“Aku berubah
sepenuhnya, termasuk kenakalanku dulu. Sebaliknya, kau sama sekali tak
berubah”, Jong-Woon hanya tersenyum kecil dan meletakkan ransel hitamnya itu
diatas sofa. Tae-Hee menoleh padaku yang berdiri kikuk disamping Jong-Woon,
seketika ekspresi wajahnya pun berubah drastis.“Dan
kau...Park Min-Bin? Tidak salah? Maksudku, kau dulu ‘si kutu buku’ dan
berkacamata besar, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?”, Tae-Hee tersenyum
ketus. Oh, aku sungguh tidak suka
kata-kata sumbang itu. Lihatlah wajah jahatnya, didalam kartun mungkin dia
sudah muncul dua tanduk dikepalanya.
“Ya, semua
orang bisa berubah”, Jong-Woon mengutip kata-kataku dan itu artinya ia tak
terlalu menanggapi perkataan Tae-Hee, sama seperti aku yang tak mempedulikan
candaan dari Jong-Woon.“Baiklah
sepertinya kalian begitu akrab. Ini teh gingseng hangatnya, jangan lupa diminum
karena udara hari ini cukup dingin, dan aku akan pergi ke kantor dulu. Anggap
saja rumah sendiri, ” Jong-Hyun ahjussi melepaskan
celemeknya lalu meraih jasnya yang menggantung di gantungan pakaian.“Appa chakaman, biar aku mengantarmu
keluar, Jong-Woon merangkul ayahnya.“Ah...anak
ini. Jika kau memaksa,” Jong-Hyun ahjussi
tersenyum dengan pipi keriputnya.Aku
menundukkan kepala, dan mngucapkan sampai jumpa. Setelah punggung kedua lelaki
itu hilang dari pandanganku, Tae-Hee mulai berbicara.“Aku tak
tahu sedekat apapun kau dengan Jong-Woon saat ini. Tapi...” ia menatap tajam,
“kau tak bisa mengambil Jong-Woon dariku!”“Tapi bukan
salahku jika nanti Jong-Woon malah tertarik padaku,” kali ini aku tak mau diam
seperti orang bodoh dihadapannya.
1terimaksih
1hallo
“Tapi kau tak perlu membeli pakaian untukku.”“1Jebal, hanya sekali ini saja”, Jong-Woon merapatkan kedua tangannya dengan mengeluarkan ekspresi seperti seekor kucing yang minta diberi ikan. Aku hanya menarik napas panjang dalam arti ‘apa boleh buat’.
1tolong, mohon
Kini aku tahu bahwa Jong-Woon telah lama menyukaiku dengan caranya sendiri, begitu pula denganku setelah pertemuan kami di bandara Incheon.Aku berharap waktu dapat berhenti, biarkan aku dan Jong-Woon duduk dibawah cahaya bulan dan bintang.
1terimakasih (informal)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar