Berlarilah, Anju!
Sendo Anju terus berlari menuju finish, keringatnya bercucuran dan nafasnya semakin sesak tapi kedua kaki yang kokoh masih mantap menopang tubuhnya.
Sekarang garis finish sudah semakin
dekat, sorak penonton yang memberi dukungan begitu antusias bak seekor monyet
mendapat pisang. Diantara mereka, ada seorang lelaki yang bernama Takaba Ryuji
melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak. “Anju-chan, berjuanglah. Kau bisa melakukannya!”
Anju tak begitu mendengar suara Ryuji dengan jelas, namun
ajaibnya dukungan dari Ryuji membuat Anju melewati para pelari lainnya,
dan...akhirnya Anju menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya digaris finish. Sontak, semua penonton berdiri
dan bersorak gembira, sedangkan sang juara lomba lari maraton tingkat nasional
itu melambaikan kedua tangannya walaupun nafasnya masih terengah-engah.
***
Anju dan Ryuji duduk dibangku penonton yang sudah kosong. “Ini
untukmu”, Ryuji memberikan sebotol air minum untuk Anju.
“Terimakasih, Ryu”, Anju tersenyum lalu meneguk air botol
berisotonik itu.
“Kau sudah bekerja keras, An. Tapi kakimu tidak terluka,
kan?”
“Tidak. Hanya saja...saat berlari tadi, dadaku terasa sesak.
Diperlombaan sebelumnya aku tidak pernah sesesak itu. Tapi, kau tak perlu
khawatir.”
“Baiklah. Aku harap, nanti kau tak akan merasa sesak lagi
saat berlari,” Ryuji mengusap-usap rambut pendek Anju.
“Semoga saja,” singkat Anju sambil
tersenyum.”Ngomong-ngomong, apa ayah dan ibuku datang kemari? Sepertinya aku
tak melihat mereka.”
Ryuji diam sejenak. “Aku menyesal mengatakan ini, tapi
mereka tidak bisa datang karena...ya, kau tahu sendiri, kedua orangtuamu selalu
sibuk dengan pekerjaan mereka.”
Mimik wajah Anju berubah. “Jadi untuk apa aku mendapat piala
ini jika mereka tidak melihatku berlari?”, Anju menatap pialanya sambil
termenung.
“Ayolah, An. Jangan seperti itu, masih ada aku disini,”
Ryuji berusaha mengembalikan senyuman Anju yang memudar.
“Ya. Kau memang teman terbaikku, Ryu.”
“Teman? Ah...ya, teman, tentu saja kita berteman”, Ryuji
memaksakan seulas senyuman. Mengapa Anju tidak mengerti juga? Jelas-jelas Ryuji
menyukai Anju, kalau tidak, untuk apa Ryuji selalu mendukungnya saat Anju akan
mengikuti lomba lari? Untuk apa Ryuji selalu menemani Anju saat kesepian karena
sering ditinggal orangtuanya pergi bekerja? Dan, untuk apa Ryuji pindah ke
sekolah Seiryu hanya untuk melihat Anju? Ryuji sungguh tak mengerti mengapa
Anju menganggapnya hanya sebagai teman.
“Ryu, aku senang kau selalu menemaniku. Apa jadinya jika kau
tidak pindah ke Kyoto dan satu sekolah denganku?”, Anju membuyarkan lamunan
Ryuji.
Ryuji tersenyum. “Syukurlah kau senang, karena aku merasa
harus tinggal di Kyoto dan menjagamu sesuai janjiku sewaktu kita kecil.
Sembilan tahun yang
lalu di Kyoto.
Ryuji dan Anju kecil
sedang bermain di bawah pohon besar nan rindang, rumput-rumput hijau yang
bergoyang tertipu angin begitu lembut menyentuh kulit.
“Ryu-chan, jika nanti
kau sudah besar mau jadi apa?”, Anju kecil yang memiliki rambut panjang lurus bertanya
dengan riang.
Ryuji kecil yang
tengah beridri menoleh dan duduk disamping Anju. “Aku ingin ikut kejuaraan
Kenpo, mewakili Jepang dan mendapat mendali emas!”, Ryuji tersenyum lebar,
sampai-sampai mata sipitnya terlihat menggemaskan.”Anju-chan?”
“Aku ingin menjadi
seorang pelari maraton yang hebat”, seru Anju membayangkan dirinya berlari
dengan gesit di lapangan.
“Lari maraton itu
melelahkan, An.”
“Tidak. Karena aku
suka berlari, lihat aku...”, Anju kecil berdiri lalu berlari penuh semangat
diatas rumput-rumput itu. Tiba-tiba Anju terjatuh tersandung rok panjangnya
lalu menangis.
Ryuji terkejut dan
menghampiri Anju. “Ada yang luka? Aku tahu kau suka berlari tapi harus
hati-hati, mengerti?”, Ryuji membersihkan kerikil-kerikil kecil di kedua lutut
Anju. Anju tidak menjawab, ia hanya bisa menangis.
“Jangan menangis. Aku
janji akan menjagamu sampai kapanpun, Anju-chan.”
“Tapi mulai besok, aku tidak akan ada di Kyoto. Aku akan
mengikuti pelatihan dan mengikuti pertandingan Kenpo di Tokyo. Aku tak tahu
berapa lama aku disana. Jadi, maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf? Aku janji, walaupun kau tak ada.
Aku akan baik-baik saja. Sungguh”, Anju berusaha menenangkan Ryuji.
“Baiklah, aku pegang janjimu”, Ryuji tersenyum.
***
Dua minggu kemudian,
“Akhirnya aku kembali ke Kyoto”, Ryuji turun dari kereta
ekspres dan menghela nafas panjang. Ia melirik mendali emas di tangan kanannya
sambil tersenyum lebar dan membayangkan wajah Anju, namun Ryuji tidak tahu apa
yang terjadi selama ia berada di Tokyo.
Kini Ryuji sedang menunggu bus di halte untuk pulang ke
rumah. Cuaca hari ini tampak mendung, ia harus segera tiba di rumah sebelum
hujan turun. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti dihadapannya, orang
yang ada di dalamnya membuka kaca mobil.
”Ryuji-san, kemarilah.
Ikutlah denganku”, Ryuji mengenal lelaki separuh baya itu. Ayahnya Anju, Sendo
Akira dan yang duduk disebelahnya adalah Sendo Hinata, ibunya Anju.
“Naiklah, nak. Kurasa Anju membutuhkanmu”, ajak ibunya Anju dengan wajah cemas.
Ryuji berpikir, ada apa ini? Kenapa
dengan Anju?
Akhirnya Ryuji ikut bersama orangtua Anju ke rumah sakit,
ya..rumah sakit. Ryuji tidak tahu bahwa Anju saat ini sedang berjuang melawan
maut. Mengapa? Rupanya rasa sesak dan lelah luar biasa yang dialami Anju dua
minggu yang lalu telah membuatnya menderita kanker paru-paru.
“Bagaimana ini bisa terjadi, paman?”, tubuh Ryuji lemas
seketika setelah ia tahu apa yang terjadi dengan Anju, gadis yang selalu ia
jaga.
“Semua ini salah kami. Kami orangtua yang buruk bagi Anju,
aku tidak tahu bahwa putriku sendiri mengidap penyakit seberat itu”, Sendo
Akira menundukkan kepala, ia melepaskan kacamatanya untuk menyeka airmata yang
mulai mengalir.
“Ini juga salahku, paman. Karena aku tidak sepenuhnya
menjaga Anju”, Ryuji menghela nafas menenangkan diri. “Tapi aku akan menebus
kesalahanku. Aku akan selalu menjaga Anju dan memberinya semangat.”
Seno Akira tersenyum. “Kau memang anak yang baik Ryuji, tapi
jangan memaksakan dirimu”, ia menepuk-nepuk bahu Ryuji.
“Benar. Lebih baik kau temui Anju di dalam sekarang”, Seno
Hinata yang mendengar percakapan suaminya dan Ryuji keluar dari ruangan Anju.
”Baiklah,” Ryuji langsung melesat ke dalam ruangan. Lihatlah
Anju, ia terbaring sambil tersenyum pucat melihat kedatangan teman terbaiknya
itu. Ryuji benar-benar tak ingin melihat Anju dengan keadaan seperti itu.
Sungguh!
“Kapan kau datang, Ryu?”
“Aku baru saja kembali dan langsung ikut dengan ayah dan
ibumu kemari”, Ryuji mencoba tak menampakkan perasaan cemasnya.
“Benarkah? Kau pasti lelah, tidak perlu memaksakan diri.”
Ryuji tersenyum. “Apa kau dan ayahmu sekongkol? Kalian
mengatakan hal sama.”
Anju tertawa. Tampaknya suasana hati Anju mulai membaik
setelah kedatangan Ryuji.
***
Pagi ini cuaca sangat cerah, Ryuji membawa sekotak makanan
untuk sarapan paginya Anju.
“Anju-chan,
waktunya makan”, Ryuji mengangkat kotak makanan dengan tersenyum ceria.
Anju yang tadinya sedang menyisir rambut menoleh dan
tersenyum lebar.
“Waktu begitu cepat berlalu, lihatlah rambutmu sudah hampir
sebahu”, Ryuji menghampiri Anju dan mulai membuka kotak makanan.
“Aku juga sudah lama berhenti berlari.”
Melihat wajah sedih Anju, Ryuji mengelus rambut gadis
itu.”Ayolah, aku disini bukan untuk melihat kau bersedih. Aku akan selalu
menjaga dan menghibur Anju yang manis ini.” Rayuan dari Ryuji berhasil membuat
Anju tersenyum. Ajaib.
Sementara itu diruangan dokter, keluarga Sendo mendengar
kabar yang sangat menyakitkan.
“Tidak mungkin. Dokter pasti salah, bagimana mungkin putriku
hidupnya tak akan lama lagi”, Sendo Hinata menangis.
“Berapa lama Anju akan bertahan, dok?” Sendo Akira bertanya
cemas.
“Kemungkinan sekitar satu atau dua bulan lagi”, jawab Dokter
Nishimura dengan berat hati.
Tepat pada saat itu Anju menjatuhkan gelas, Ryuji menoleh
kearah Anju dan menghampirinya. “Kau tidak apa-apa, An?”
Anju menggelangkan kepala namun entah mengapa ia merasa akan
ada hal yang buruk terjadi.
***
Waktu begitu cepat berlalu. Ryuji duduk termenung diruang
tunggu rumah sakit, sesekali ia menghela nafas dan memandang foto Anju
bersamanya di ponsel. Ryuji tahu bahwa tak lama lagi ia akan kehilangan Anju,
gadis manis yang sangat dicintainya.
“Anju-chan,
haruskah aku menyatakan persaanku sebelum semuanya berakhir?”, Ryuji bergumam
membelai foto Anju. Selama ini, Ryuji masih belum bisa memberanikan diri untuk
menyatakan perasaannya kepada Anju.
“Ryu, aku ingin jalan-jalan keluar. Temani aku,” Anju yang
tiba-tiba keluar dari ruangannya menghampiri Ryuji yang duduk menatap ponsel.
“Baiklah. Mari aku bantu berjalan”, Ryuji menoleh lalu
menopang lengan kiri Anju.
Anju tersenyum. ”Dulu aku adalah seorang pelari. Tapi
sekarang, untuk berjalan pun aku masih dibantu oleh orang lain.”
“Siapa yang kau sebut orang lain? Aku kan te-teman
terbaikmu”, rasanya sulit sekali bagi Ryuji untuk mengatakan bahwa ia adalah
temannya Anju, Ryuji ingin lebih dari itu!
“Ryu, ayo kita duduk di ayunan itu”, Anju menunjuk ayunan
panjang yang berada di halaman belakang rumah sakit. Ryuji hanya mengangguk.
Udara malam yang dingin membuat mulut Anju mengeluarkan asap
putih, Ryuji yang menyadari hal itu melepaskan mantel tebalnya dan menyelimuti
tubuh Anju. “Dasar ceroboh, kau tahu malam ini brgitu dingin?”
“Cerewet sekali!”, lalu Anju tersenyum. “Terimakasih.”
Kemudian keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran
masing-masing sambil menatap langit bertabur bintang.
“Anju-chan,” Ryuji
memulai percakapan. “Ada yang harus aku katakan padamu.”
“Apa itu? Katakan saja,” Anju menoleh lalu tersenyum dengan
wajahnya yang pucat pasi.
“Apa selama ini kau hanya menganggapku sebagai teman? Maksudku...aku
bingung harus memulainya dari mana?”, Ryuji ingin mengatakan perasaannya
sekarang. Oh Tuhan, beranikan Ryuji sebelum semuanya hilang.
“Kenapa? Kau tidak suka berteman denganku?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Hanya saja...bisakah aku lebih
dari seorang teman untukmu?”
Anju mengerutkan keningnya lalu tiba-tiba ia tersipu malu,
sepertinya ia tahu maksud dari perkataan Ryuji.
“A-aku menyukai Sendo Anju. Sudah lama...sudah lama aku
memendam perasaan ini padamu”, Ryuji menundukkan kepala.
“Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”, ada nada
sendu dari ucapan Anju.
“Maafkan aku. Aku takut merusak persahabatan kita, lagipula
kau selalu..”
“Takaba Ryuji. Aku..juga menyukaimu.” Anju memotong
perkataan Ryuji. Tuhan, lihatlah mereka saling mencintai, apakah Anju
benar-benar harus meninggalkan Ryuji?
Anju menangis sedangkan Ryuji terkejut sekaligus bahagia.
Perlahan Ryuji merangkul tubuh Anju dan memeluknya, ia sungguh tidak ingin
melihat gadis itu menangis dihadapannya.
“Anju-chan.
Kumohon jangan menangis seperti ini , aku hanya ingin melihat senyummu, kau
mengerti?”
“Iya, Ryu.” Anju mengangguk dan tersenyum.
“Dan tetaplah bersamaku, mengerti?”, kali ini Anju tak
menjawab.
“Kenapa diam? Jawab aku, An!” ia tetap tak bergeming. Lengan
Anju yang tadinya menempel dipunggung Ryuji terkulai, Anju menutup matanya.
“Kenapa kau tidur? Buka matamu, kau harus menjawab
pertanyaanku.” Ryuji gemetar, tangannya dingin dan dadanya terasa sakit. Ia meneteskan
airmata dan tetap memeluk tubuh kaku Anju. Setelah peristiwa menyesakkan itu, Anju
tidak membuka matanya lagi dan tidak berlari di lapangan lagi, sedangkan Ryuji
tidak melihat gadis itu menangis bahkan
tidak lagi melihat senyumannya. Terimakasih Tuhan, Ryuji setidaknya lega karena
ia bisa menyatakan perasaannya sebelum semuanya hilang.
***
“Ryu, tangkap aku
kalau bisa!” teriak Anju kecil sambil berlarian di sekitar pohon rindang.
“Berhentilah berlari
Anju nakal. Nanti kau bisa terjatuh lagi!”, Ryuji kecil yang sedang duduk di
pohon itu beranjak lalu mengejar Anju. Yang dikejar malah tertawa riang
menggemaska , rambut panjangnya tertiup angin yang lembut.